Metanol dan Kebutaan

Belum lama ini kabar duka akibat miras oplosan marak diperbincangkan. Tidak heran lagi jika miras oplosan banyak menimbulkan korban, sebab salah satu bahan yang sering digunakan untuk membuat miras oplosan adalah metanol.

Metanol yang dikenal juga dengan metil alkohol merupakan salah satu jenis alkohol yang beracun, memiliki bau yang khas, mudah menguap, dan mudah terbakar. Konsumsi metanol dapat membahayakan konsumen, dapat mengakibatkan buta permanen hingga mengakibatkan kematian.

Metanol dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan saluran pernapasan. Metanol yang masuk ke dalam tubuh akan dimetabolisme menjadi formaldehyde kemudian menjadi asam format.

Asam format yang terakumulasi dalam syaraf mata akan menyebabkan cidera retina mata dan juga menghambat metabolisme normal pada sel saraf optik (mata), sehingga menyebabkan gejala visual seperti tidak tahan cahaya (fotofobia), pandangan kabur, sampai pada kebutaan.

Kerusakan saraf mata karena metanol bersifat irreversibel (tidak dapat pulih kembali). Kerusakan tersebut akan berakhir dengan atrofi optik bilateral atau dalam jangka waktu 3-6 bulan saraf mata memucat dan tidak dapat berfungsi kembali.

Gejala awal keracunan metanol yang dirasakan antara lain adalah menyebabkan sakit kepala, sakit perut, mual, dan muntah-muntah. Gejala lainnya akan mengakibatkan sakit otot, badan terasa lemah, kejang-kejang, dan lain sebagainya.

Kejadian tersebut apabila tidak segera ditolong maka dapat mengakibatkan kerusakan saraf optik mata berupa dilatasi pupil, penglihatan menjadi kabur dan akhirnya menjadi buta permanen. Disamping itu juga menyebabkan pernapasan menjadi lebih dalam dan cepat, tekanan darah menurun, syok kemudian koma, dan dapat mengakibatkan kematian.

Kejadian demikian harus segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Pengobatan diberikan untuk mencegah absorbsi metanol lebih lanjut dengan pemberian sodium bikarbonat dan obat-obat antidotum lainnya.