Keratoplasty : Apa dan Bagaimana Prosedurnya?

Keratoplasty atau transplantasi kornea adalah tindakan operasi pada mata yang bertujuan mengganti kornea mata yang rusak dengan kornea baru (kornea donor). Kasus kebutaan yang diakibatkan oleh kelainan kornea sangat banyak jumlahnya. Penyebab yang tertinggi ialah infeksi kornea karena jamur dan bakteri, disusul dengan kelainan kornea bawaan dan idiopatik.

Keratoplasty dilakukan untuk memperbaiki fungsi penglihatan pada pasien yang matanya mengalami kebutaan akibat kerusakan kornea, pada luka/ulkus kornea yang tidak sembuh dengan obat-obatan, dan memperbaiki struktur kornea yang sudah tipis/bolong yang dapat mengancam keutuhan bola mata.

Pelaksanaan tindakan keratoplasty cukup cepat. Donor mata yang sudah meninggal akan diambil korneanya selambat-lambatnya 6 jam setelah kematian. Kemudian kornea tersebut akan dicangkokkan dalam waktu kurang dari 24 jam setelah diambil. Setelah dilakukan cangkok kornea, dalam kurun waktu tertentu resipien diberikan obat-obatan tetes mata maupun obat yang diminum secara teratur.

Keratoplasty merupakan prosedur yang cukup aman. Komplikasi paska bedah yang kemungkinan dapat timbul antara lain reaksi penolakan/rejeksi terhadap kornea donor, peningkatan tekanan bola mata, dan infeksi paska bedah. Reaksi penolakan umumnya dapat terjadi pada tahun pertama. Hal ini disebabkan kornea donor ditolak oleh sistem imunitas tubuh resipien. Kecepatan menangani penyulit dan ketaatan pasien mengikuti jadwal kontrol serta pemakaian obat ikut berperan mengurangi kemungkinan terjadinya reaksi penolakan.

Kendala terbesar saat ini akibat minimnya ketersediaan donor kornea, sedangkan kebutaan kornea hanya dapat ditolong dengan prosedur keratoplasty. Untuk itu perlu peningkatan pengetahuan, kesadaran dan kepedulian masyarakat akan prosedur keratoplasty, manfaat, dan permasalahan yang menyertai. Masyarakat dihimbau untuk bersama-sama melawan kebutaan kornea dan diharapkan semakin banyak masyarakat berpartisipasi sebagai donor kornea di kemudian hari.