World Glaucoma Week 2019 - GREEN (Go Get Your Eyes Tested for Glaucoma)

Apakah glaukoma itu?

Tidak banyak orang yang tahu tentang glaukoma. Karena penyakit ini masih kalah pamor dibandingkan dengan katarak. Padahal saat ini glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua di hampir seluruh dunia, dan menjadi penyebab kebutaan permanen nomor satu terbesar di dunia.

Glaukoma berbeda dengan katarak. Kebutaan karena glaukoma bersifat permanen atau tidak dapat diperbaiki (irreversible). Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus glaukoma.

World Glaucoma Day (WGD) atau Hari Glaukoma Sedunia dideklarasikan pada tanggal 6 maret 2008 dan diperingati setiap tanggal 12 maret. Seluruh negara di dunia dihimbau untuk menyelenggarakan kegiatan bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang glaukoma, terutama untuk masyarakat yang mempunyai faktor risiko untuk melakukan pemeriksaan mata teratur. Sejak tahun 2010, peringatan Hari Glaukoma diselengggarakan selama sepekan sehingga disebut sebagai World Glaukoma Week (WGW) atau Pekan Glaukoma Sedunia. Untuk tahun 2019 penyelenggaraannya pada tanggal 10-16 Maret 2019.

Dalam rangka memperingati WGW tahun ini RS Mata “Dr.YAP” menyelenggarakan kegiatan pelatihan deteksi dini glaukoma yang akan diikuti oleh paguyuban glaukoma, kader puskesmas binaan RS Mata “Dr.YAP” yaitu Puskesmas Gondokusuman I, Puskesmas Gondokusuman II dan Puskesmas Jetis. Hal ini untuk melatih kader dan paguyuban dalam melakukan deteksi dini glaukoma di wilayah kerja puskesmas binaan. Selanjutnya peserta yang ditemukan adanya glaukoma dan memerlukan pemeriksaan lanjutan akan diperiksa di RS Mata “Dr.YAP” saat acara puncak Minggu, 24 Maret 2019.Acara puncak terbuka untuk umum, selain ada kegiatan deteksi dini akan ada senam bersama, talkshow edukasi kesehatan mata, stand farmasi untuk edukasi cara penggunaan obat, lomba pembuatan video kegiatan WGW dan doorprise menarik.

Glaukoma bisa terkena siapa saja. Gejala glaukoma sering tidak disadari atau menyerupai gejala penyakit lain, sehingga kebanyakan penderita kurang menyadari bahwa dirinya menderita glaukoma dan baru diketahui ketika penyakit telah lanjut dan terjadi kebutaan total.

Glaukoma merupakan kerusakan saraf mata yang diikuti gangguan lapang pandang yang khas. Penyebab utamanya adalah tekanan bola mata yang meningkat disebabkan hambatan pengeluaran cairan bola mata (humor aquos). Penyebab lain adanya gangguan suplai darah ke saraf mata dan kelemahan saraf mata.

Klasifikasi glaukoma bisa primer dan sekunder. Glaukoma primer merupakan jenis glaukoma yang diturunkan dan tidak diketahui penyebab pastinya. Glaukoma sekunder merupakan jenis glaukoma yang tidak diturunkan dan diketahui penyebab pastinya. Apabila dalam satu keluarga diketahui ada yang menderita glaukoma primer, maka keluarga terdekat perlu meriksakan kondisi matanya. Glaukoma sekunder bisa disebabkan banyak hal diantaranya trauma mata, radang mata, diabetes melitus (kencing manis), perdarahan dalam mata, bahkan katarak pun bisa menyebab glaukoma.

Gejala yang dialami penderita glaukoma sangat beragam tergantung jenis glaukoma yang diderita, apakah akut atau kronis. Gejala glaukoma akut sangat jelas, karena penderita akan merasakan sakit kepala, mata pegal, mual, muntah, mata merah, penglihatan buram mendadak dan melihat pelangi di sekitar lampu. Namun seringkali pasien tidak menyadari gejala tersebut sehingga penderita akan berobat dengan obat sakit kepala sampai akhirnya diketahui penyebabnya adalah glaukoma akut, sehingga pasien datang terlambat dalam kondisi saraf mata sudah rusak.

Glaukoma kronis tidak menimbulkan gejala. Penderita tidak merasakan apapun, namun perlahan-lahan penglihatan menurun karena kerusakan saraf mata secara perlahan juga. Pada saat penderita mengeluh adanya gangguan pada penglihatan, biasanya telah terjadi kerusakan berat. Sehingga glaukoma kronis sering disebut “si pencuri penglihatan”.

Penanganan glaukoma dengan menurunkan tekanan bola mata ke tingkat yang ‘aman’, dimana tidak lagi merusak saraf mata atau memperlambat kerusakan saraf mata. Pada tekanan yang ‘aman’ tersebut, diharapkan tidak terjadi kerusakan saraf mata lebih lanjut sehingga kebutaan dapat dicegah.

Pemberian terapi obat-obatan maupun bedah termasuk laser hanya dapat mencegah atau memperlambat kehilangan penglihatan. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting dilakukan untuk mencegah hilangnya penglihatan dan mencegah progresivitas glaukoma agar tidak menjadi buta. Sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin agar tidak mengalami kehilangan penglihatan secara permanen akibat glaukoma. (Humas RS Mata "Dr.YAP")