Menjadi Pekerja Produktif dengan Menerapkan Worklife Balance

Yogyakarta, 15 Juni 2019 - RS Mata “Dr.YAP” menyelenggarakan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) untuk internal karyawan, Jumat (14/6) siang. Mengambil tema “Worklife Balance: Membangun Keseimbangan Kerja dan Kehidupan Pribadi Karyawan Menuju Peningkatan Kinerja Perusahaan”, kegiatan ini ingin mengajak peserta untuk belajar menjadi pribadi seimbang dalam segala aspek kehidupannya.

Bertempat di Aula RS Mata “Dr.YAP”, kegiatan yang digalang Unit PKRS ini menggandeng Lucia Peppy, M.Si., Psikolog., praktisi psikologi klinis yang juga pengajar di salah satu perguruan tinggi. Dia menegaskan pentingnya melakukan penyelarasan antara aspek pikiran dengan aspek emosional. Dengan sinkronisasi maka akan tercipta keseimbangan yang berpengaruh pada kehidupan pribadi, sosial, dan pekerjaan.

“Manusia itu terdiri dari kognitif, emosi, dan perilaku. Idealnya, ketiga aspek tersebut berjalan seimbang sehingga kita menjadi pribadi yang positif,” ungkap dia di depan para karyawan RS Mata “Dr.YAP”

Namun, dalam kenyataannya masih banyak individu yang belum mampu mengenali dirinya sendiri, termasuk bagaimana mengelola emosi. Kecerdasan emosional dibutuhkan oleh para pekerja, terutama dalam menghadapi tantangan pekerjaan. Emosi jamak menjadi faktor yang mengganggu produktivitas.

“Sebagai pekerja, kita dituntut untuk mengerti kapan harus mengekspresikan atau memendam emosi demi menjaga profesionalitas dan produktivitas kita dalam bekerja. Memang perlu latihan, tidak bisa dalam waktu singkat,” ungkap dia.

Terkait tema worklife balance, psikolog yang dalam waktu dekat akan menerbitkan buku ini memaparkan konsep sejahtera secara psikologis. Konsep ini terdiri dari empat komponen yang terdiri dari “Belajar, Bekerja, Bermain, dan Bercinta atau disingkat 4B”. Belajar yang dimaksud adalah haus akan pengetahuan baru, kemudian bekerja menekankan pada produksi karya. Bermain dapat dilihat sebagai melakukan aktivitas dengan gembira, sedangkan bercinta adalah berbagi kasih yang universal kepada siapa saja. Ia menambahkan, sebagai pekerja, kita diminta menemukan empat poin tersebut dalam tiap aktivitas.

“Proporsinya tidak selalu harus sama antara satu aspek dengan yang lain. Jika keempat poin tersebut dapat kita temukan dalam kegiatan sehari-hari sudah pertanda yang bagus. Artinya kita sejahtera secara psikologis. Namun, jika satu saja tidak kita rasakan, berarti ada yang harus kita perbaiki,” kata dia.

Worklife balance adalah kondisi dimana seseorang mampu melakukan segala sesuatu dalam keadaan fit dan bugar. Untuk mencapai kualifikasi tersebut, dapat dimulai dengan berlatih mengerjakan aktivitas yang konstruktif. Aktivitas tersebut meliputi mau berbagi cerita dan pengalaman pada orang lain, menjalankan hobi yang digemari, menjaga kebugaran tubuh dengan rutin berolahraga, serta memberi waktu pada diri sendiri untuk menyegarkan pikiran.

“Aktivitas konstruktif layaknya vitamin psikologis yang sangat penting bagi kita,” tutupnya. (Humas RS Mata "Dr.YAP")