World Glaucoma Week 2018 - Cegah Kebutaan Glaukoma

Apakah glaukoma itu?

Tidak banyak orang yang tahu tentang glaukoma. Karena penyakit ini masih kalah pamor dibandingkan dengan katarak. Padahal saat ini glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua di hampir seluruh dunia, dan menjadi penyebab kebutaan permanen nomor satu terbesar di dunia.

Glaukoma berbeda dengan katarak. Kebutaan karena glaukoma bersifat permanen atau tidak dapat diperbaiki (irreversible). Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan dan penangan kasus  glaukoma.

World Glaucoma Day (WGD) atau Hari Glaukoma Sedunia dideklarasikan pada tanggal 6 maret 2008 dan diperingati setiap tanggal 12 maret. Seluruh negara di dunia dihimbau untuk menyelenggarakan kegiatan bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang glaukoma,  terutama untuk masyarakat yang mempunyai faktor risiko untuk melakukan pemeriksaan mata teratur. Sejak tahun 2010, peringatan Hari Glaukoma diselengggarakan selama sepekan sehingga disebut sebagai World Glaukoma Week (WGW) atau Pekan Glaukoma Sedunia. Untuk tahun 2018 penyelenggaraannya pada tanggal 11-17 Maret 2018.

Dalam rangka memperingati World Glaucoma Weeks tahun ini RS Mata “Dr.YAP” menyelenggarakan kegiatan deteksi dini glaukoma di Puskesmas Gondokusuman I. Pemeriksaan ini gratis dan bisa diikuti oleh masyarakat umum dengan kuota 100 peserta. Kegiatan diadakan hari Rabu, 14 Maret 2018 mulai pukul 08.00 WIB dengan melibatkan dokter spesialis mata, dokter residen, perawat, tenaga kesehatan dari Puskesmas Gondokusuman I dan kader kesehatan di wilayah tersebut. Selanjutnya peserta yang ditemukan adanya glaukoma dan memerlukan pemeriksaan lanjutan akan diperiksa di RS Mata “Dr.YAP” tanggal 20 Maret 2018. RS Mata “Dr.YAP” juga menyediakan 6 kuota operasi trabekulektomi gratis untuk peserta glaukoma yang tidak mampu dan non BPJS.

Glaukoma bisa terkena siapa saja. Gejala glaukoma sering tidak disadari atau menyerupai gejala penyakit lain, sehingga kebanyakan penderita kurang menyadari bahwa dirinya menderita glaukoma dan baru diketahui ketika penyakit telah lanjut dan terjadi kebutaan total.

Glaukoma merupakan kerusakan saraf mata yang diikuti gangguan lapang pandang yang khas. Penyebab utamanya adalah tekanan bola mata yang meningkat disebabkan hambatan pengeluaran cairan bola mata (humor aquos). Penyebab lain adanya gangguan suplai darah ke saraf mata dan kelemahan saraf mata.

Klasifikasi glaukoma bisa primer dan sekunder. Glaukoma primer merupakan jenis glaukoma yang diturunkan dan tidak diketahui penyebab pastinya. Glaukoma sekunder merupakan jenis glaukoma yang tidak diturunkan dan diketahui penyebab pastinya. Apabila dalam satu keluarga diketahui ada yang menderita glaukoma primer, maka keluarga terdekat perlu meriksakan kondisi matanya. Glaukoma sekunder bisa disebabkan  banyak hal diantaranya trauma mata, radang mata, diabetes melitus (kencing manis), perdarahan dalam mata, bahkan katarak pun bisa menyebab glaukoma.

Gejala yang dialami penderita glaukoma sangat beragam tergantung jenis  glaukoma yang diderita, apakah akut atau kronis. Gejala glaukoma akut sangat jelas, karena penderita akan merasakan sakit kepala, mata pegal, mual, muntah, mata merah, penglihatan buram mendadak dan melihat pelangi di sekitar lampu. Namun seringkali pasien tidak menyadari gejala tersebut sehingga penderita akan  berobat dengan obat sakit kepala sampai akhirnya diketahui penyebabnya adalah glaukoma akut, sehingga pasien datang terlambat dalam kondisi saraf mata sudah rusak.

Glaukoma kronis tidak menimbulkan gejala. Penderita tidak merasakan apapun, namun perlahan-lahan penglihatan menurun karena kerusakan saraf mata secara perlahan juga. Pada saat penderita mengeluh adanya gangguan pada penglihatan, biasanya telah terjadi kerusakan berat. Sehingga  glaukoma kronis sering disebut “si pencuri penglihatan”.

Penanganan glaukoma dengan menurunkan tekanan bola mata ke tingkat yang ‘aman’, dimana tidak lagi merusak saraf mata atau memperlambat kerusakan saraf mata. Pada tekanan yang ‘aman’ tersebut, diharapkan tidak terjadi kerusakan saraf mata lebih lanjut sehingga kebutaan dapat dicegah.

Pemberian terapi obat-obatan maupun bedah termasuk laser hanya dapat mencegah atau memperlambat kehilangan penglihatan. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting dilakukan untuk mencegah hilangnya penglihatan dan mencegah progresivitas glaukoma agar tidak menjadi buta. Sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin agar tidak mengalami kehilangan penglihatan secara permanen akibat glaukoma.