Dr. dr. Retno Ekantini, Sp.M(K)., M.Kes.: Periksa Mata Enam Bulan Sekali

Yogyakarta, 27 Maret 2019 - RS Mata “Dr.YAP” menggelar talkshow yang bertempat di ruang tunggu selatan Instalasi Rawat Jalan RS Mata “Dr.YAP”, Minggu, 24 Maret 2019, pukul 08.00. Talkshow ini merupakan bagian dari rangkaian Puncak Acara World Glaucoma Week (WGW) 2019 di RS Mata “Dr.YAP”. Tema yang diambil ialah seputar penyakit glaukoma dan deteksi dini, sesuai dengan jargon yang diusung, yaitu Green: Go Get Your Eyes Tested for Glaucoma.

Hadir sebagai narasumber ialah Dr. dr. Retno Ekantini, Sp.M(K)., M.Kes., dokter mata konsultan dan subspesialis glaukoma. Dalam kesempatan pagi itu, ia menyampaikan pentingnya deteksi dini untuk mencegah terjadinya kebutaan akibat glaukoma. Hal ini menjadi sangat penting karena sering terjadi glaukoma yang menjangkiti pasien tanpa disertai gejala khusus. Akibatnya, pasien merasa baik-baik saja hingga di satu titik ketika tekanan bola matanya sudah sangat tinggi baru merasakan nyeri atau pegal di sekitar mata.

“Tekanan bola mata normal itu 15 mmHg. Kalau tekanannya sudah mencapai 30 - 40 baru terasa kemeng (pegal),” tambah dia.

Penderita glaukoma mengalami keadaan dimana tekanan bola mata menjadi sangat tinggi akibat volume cairan aqueos humor yang berlebih. Jika dibiarkan, tekanan bola mata yang tinggi dapat merusak saraf optik mata. Glaukoma termasuk penyakit yang bisa diwariskan, sehingga keluarga pasien glaukoma menjadi lebih berisiko. Namun, hingga usia tertentu bisa jadi tidak ada gejala yang menyertai kemunculan glaukoma pada seseorang. Deteksi dini dengan melakukan pemeriksaan mata secara rutin dapat menurunkan risiko turunnya kualitas penglihatan atau bahkan kehilangan penglihatan akibat glaukoma. Bagi yang berisiko tinggi glaukoma, seperti penderita diabetes, darah tinggi, dan keturunan pasien glaukoma, disarankan untuk periksa ke dokter mata enam bulan sekali.

Talkshow yang dimoderatori oleh Gondo Sepi Prabangkoro, S.Kep.Ns. ini juga menghadirkan Bapak Aat. Ia adalah penderita glaukoma yang telah mengalami kebutaan total. Menurut dia, glaukoma telah membutakannya pada 2007. Sebelum terdeteksi menderita glaukoma, ia telah mengalami masalah penglihatan yang mengharuskannya untuk menjalani operasi mata pada tahun 2000. Seiring waktu berjalan, masalah pada penglihatan kembali muncul. Ternyata ia mengidap glaukoma. Namun karena tidak patuh mengkonsumsi obat dan jarang kontrol, glaukoma membuatnya buta.

“Awalnya kabur, lama kelamaan penglihatan menghilang sampai tersisa seperti melihat lewat lubang kunci saja,” terang Pak Aat menjelaskan bagaimana glaukoma merenggut seluruh penglihatannya.

RS Mata “Dr.YAP” turut menghadirkan Bapak Agus, keyboardis difabel, dari Badan Sosial Mardi Wuto sebagai pengisi acara.

(Hukmas RS Mata "Dr.YAP")